Setiap rel akan selalu menjadi saksi sejarah

Terhadap kereta kehidupan yang melintas di atasnya

Minggu, 13 Mei 2012

UM 1 = UM MADANI


Sering didengung-dengungkan tentang adanya impian bersama mencapai Kampus yang MADANI. Sangat manis terucap MADANI, MADANI dan MADANI. Namun, sebenarnya perlu dipertanyakan tentang MADANI itu sendiri, wahhh jangan-jangan para aktivis dakwah kampus ternyata masih belum memahami makna dari kata MADANI itu sendiri. Bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi itu jika apa yang kita inginkan saja belum tergambar jelas. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab untuk mengatur alur perjalanan ini hingga kita mencapai puncak kemenangan. Bagaimana cara kita mengawali kerja, langkah awal apa yang kita tempuh dan apa saja yang perlu dipersiapkan, itu menjadi bahasan awal untuk merancang sebuah agenda besar menuju kampus yang MADANI. Diperlukan adanya pemikiran setiap aktivis untuk merancang konsep kampus MADANI itu seperti apa dalam benak mereka, sehingga memperjelas gerak langkah dan arah tujuan kita untuk merealisasikannya. Tapi, tidak sedikit para aktivis yang apatis dengan itu semua. Hidup itu pilihan, dan setiap pilihan yang dipilih mengantarkan kita kepada hakekat akan tujuan hidup. Kita ikut dalam kumpulan orang yang hanya duduk-duduk ataukah bersama orang-orang yang tergopoh-gopoh berjalan menggapai kemenangan.
            MADANI itu sebuah keadaan yang ideal. Jadi bisa dikatakan KAMPUS MADANI  adalah kampus dengan keadaan yang ideal. Arya Sandhiyudha (2006:104-106) dalam bukunya Renovasi Dakwah Kampus mengkategorikan ada 9 point yang kemudian menjadi ciri sebuah kampus madani.
1.      Religious
Kategori pertama dan utama yang menjadi pendobrak terbentuknya kondisi yang MADANI. Artinya, dimudahkannya akses peningkatan pemahaman akan beragama dalam kampus. Kemudahan memperoleh wawasan peningkatan ruhiyah melalui forum – forum kajian, konsultasi, sms taujih, bisa diakses dengan mudah, terbuka, dan menyeluruh terhadap stakeholder (Mahasiswa, Dosen, Pegawai, Umum) sebuah kampus. Adanya kegiatan-kegiatan dari organisasi bidang kerohanian dapat diterima seluruh lapisan masyarakat kampus. Pelayanan yang memadai dan tidak nampak eksklusif, sehingga tujuan yang kita usung dapat tersampaikan kepada objek dakwah. Pada fase ini, ditandai dengan nuansa religius dari personal, lembaga, sarana, budaya, maupun kebijakan yang berlaku di kampus tesebut. 
Religious disini bukan hanya sekedar tugas dari UKM kerohanian saja untuk mengaplikasikannya, namun kondisi dimana semua warga kampus menyadari atas urgensi kerohanian mereka sehingga terlaksana sebuah nuansa religious dalam sebuah kampus. Jika waktu sholat tiba, berbondong – bondonglah dosen, mahasiswa, pegawai, satpam ke masjid ataupun mushola – mushola terdekat untuk melaksanakan shalat berjama’ah. Demikian juga dengan kondisi ketika waktu sholat wajib tiba maka tidak ada satupun kelas yang belangsung kegiatan belajar-mengajar. Ini menjadi sebuah tolak ukur awal disebutnya sebuah kampus menjadi kampus MADANI.
2.      Institusional
Artinya, adanya institusi – institusi yang kredibel (proaktif, empatik, jujur, dan dialogis) dan professional sebagai penopang gerak dinamika kampus itu sendiri. Institusi – intitusi ini bisa berwujud institusi kemahasiswaan misalnya BEM yang berfungsi sebagai pengawal kebijakan birokrasi sehingga segala proses administrasi yang berlangsung di birokrasi berjalan lancar tanpa ada satupun oknum yang melakukan hal-hal yang merugikan warga kampus. Bahkan institusi mandiri, atau institusi – institusi yang secara langsung dikelola oleh pihak birokrasi kampus yang benar – benar kredibel dibidangnya masing – masing dan memberikan pelayanan terhadap kepentingan mahasiswa, serta stakeholder kampus lainnya.
3.      Constitutional
Tahap ini tercermin dari aturan yang lengkap yang melingkupi dan menaungi seluruh aspirasi komponen kampus dan diinspirasi oleh nilai – nilai ruhani serta disepakati menjadi pilihan bersama dalam sebuah kampus. Pada tahap ini terjadi sebuah peraturan kampus yang jelas, teratur, berkesinambungan dan diterima oleh masyarakat kampus sehingga masyarakat kampus dapat memahami apa saja yang menjadi haknya, dan dapat memperjuangkan hak – haknya tersebut, serta melawan jika haknya dirampas. Pada konteks kemahasiswaan, ada sebuah undang – undang mengenai kemahasiswaan yang disepakati dan dilaksanakan secara bersama, sehingga yang melanggar akan mendapat sanksi dan seluruh element mahasiswa berkewajiban untuk melaksanakannya. Kampus MADANI tidak akan toleran terhadap sosok opportunis. Demikian juga di tataran birokrasi kampus, keluarnya sebuah kebijakan – kebijakan yang bersifat constitute harapannya dapat disepakati bersama dan tidak memberatkan serta ada sebuah konsekuensi moral untuk mematuhi dan melaksanakannya.
4.      Intellectual
Kampus MADANI adalah kampus yang masyarakat di dalamnya bersemangat tinggi dalam menuntut ilmu, mengamalkannya, dan menyerukannya kepada yang lain. Masyarakat kampus inilah yang akan menghasilkan sebuah model dan sarana peningkatan kredibilitas professional (core competence, management, and strategic thinking), kredibilitas moral (komitmen dan nilai), dan kredibilitas sosial ( human relation). Intellectual menjadi sebuah tradisi dalam dunia akademisi dan menjadi tuntutan.
5.      Peaceful Oriented
Berorientasi kepada kedamaian. Artinya, kondisi aman dan harmonis, serta Lima Es (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun) selalu teraplikasi. Ketika memasuki kampus ini, entah itu masyarakat lama ataupun pendatang akan merasakan suasana aman dan nyamannya. 
Dikampus yang seperti ini, segala bentuk kejahatan, anarkisme, diktatorisme, rasialisme, egoisme bahkan terorisme adalah menjadi musuh bersama untuk ditumpas.
6.      Egalitarian
Artinya warga kampus MADANI ini tidak mengenal pembedaan atas simbol – simbol duniawi. Merdeka dari senioritas dan pengkastaan. Dikampus ini, tidak akan ada cerita mahasiswa junior ditindas oleh senior, atau mahasiswa diperas oleh dosen untuk memberi nilai. Bebas dari kekerdilan intelektual seperti itu.
7.      Justice
Berkeadilan. Kampus ini memiliki warga yang memiliki kesamaan etika dalam menjaga hak agama, harta, akal, jiwa, keturunan. Semua dapat membela haknya dan mendapatkan funishment atas pelanggaran yang dibuatnya. Pihak birokrat kampus tidak membedakan status ketika penerimaan mahasiswa baru, dan memberikan hak yang sesuai terhadap kebutuhan mahasiswanya. Dalam hal distribusi beasiswa misalnya, berkeadilan disini adalah sesuatu yang proporsional. Sehingga yang layak menerimalah yang sepatutnya menerima bantuan tersebut. Bukan malah mereka yang memiliki koneksi dengan kolusinya, terlepas dari mereka berada dan berkelas menengah keatas. Pada tahap ini, semua legowo atas keadilan yang terlaksana.
8.      Technology Oriented
Artinya, bahwa kampus pada fase MADANI ini memiliki warga masyarakat yang menguasai teknologi dan mengerahkan segala kemampuan dan sarananya untuk kebaikan. Tidak ada lagi istilah gaptek (gagap IPTEK) dikampus ini. Kemudahan menggunakan piranti yang berhubungan dengan teknologi pun bisa diakses dengan mudah dan fleksibel oleh masyarakat kampus. 
Hotspot misalnya, warnet gratis, perpustakaan maya, yang kesemuanya memicu kampus untuk berangkat menuju ke-MADANIan-nya. Dan bangunan-bangunan kampus yang menunjang peningkatan pembelajaran dan akses mahasiswa.
            Begitu kondisi yang sudah sempurna dari ke-9 kategori di atas untuk menuju sebuah kampus yang MADANI. Sudah terbesit dan tergambar di dalam benak kita rupa dan bentuk keadaan yang MADANI itu seperti apa. Karena adanya ilmu di atas amal, maka saatnya kita beraksi dan terus bergerak mencapai kesuksesan mimpi. Kembali merapatkan barisan yang mulai goyah dan memperbaiki semangat-semangat yang mulai rapuh untuk kinerja yang lebih cepat dan tepat.

Kamis, 10 Mei 2012

Pemanfaatan Dunia Maya dalam Pelaksanaan PEMILU


Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
          Jabatan-jabatan tersebut dimulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Para pemilih dalam Pemilu disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
          Setelah
pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan kepada pemilih.
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang biasa disebut dalam prinsip sistem demokrasi.
          Pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rezim pemilu. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada Pemilu 2004.
          Pada 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Di tengah masyarakat, istilah "pemilu" lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
         
          Di tahun 2012 ini Indonesia akan kembali mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu juga selalu diikuti oleh kecemasan dan ketakutan masyarakat akan kondisi keamanan negara. Biasanya saat Pemilu merupakan saat-saat rawan karena semua partai yang berpartisipasi berlomba-lomba merebut perhatian masyarakat dengan menggunakan berbagai cara. Kondisi rawan ini terus berlangsung walaupun proses pengambilan suara telah selesai. Ini karena proses pemilu masih harus dilanjutkan lagi dengan tahap penghitungan jumlah suara yang masuk untuk menentukan pemenang.
          Proses penghitungan yang masih dilakukan secara manual ini tentu saja membutuhkan waktu tidak sedikit. Walaupun didukung oleh banyak orang yang tergabung dalam panitia pelaksana, tetap saja prosesnya memakan waktu. Belum lagi kalau terjadi kesalahan-kesalahan dalam perhitungan, semua proses penghitungan mungkin harus diulang dari awal. Kelemahan proses ini akhirnya mendorong para pemikir untuk menemukan alternatif proses pemilihan umum dan penghitungan suara yang lebih sederhana dan cepat tetapi tetap akurat. Teknik pengambilan suara menggunakan elektronik (E-Voting) merupakan jawaban yang cukup menjanjikan. Jutaan orang di Negeri ini sudah tidak asing lagi yang namanya “internet”, mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah menjadi pengguna internet, dan sudah seperti makan sehari-hari bagi mereka. Sistem pendidikan pun sudah sangat dekat dengan penggunaan internet.
          Metode Pemilu di dunia maya ini sebenarnya bukan hal yang baru. Kita sudah sering menemukan berbagai bentuk polling di dunia maya. Kita sendiri sudah mengetahui betapa cepatnya proses perhitungan suara yang bisa dilakukan jika kita menggunakan bantuan elektronik ini. Pada saat kita memasukkan suara atau pilihan kita pun kita bisa langsung mengetahui total suara yang sudah masuk. Hasil perhitungan ini pun dijamin sangat akurat karena dilakukan menggunakan program komputer. Betapa banyak waktu yang bisa dihemat saat kita memanfaatkan jaringan internet ini. Di mana pun lokasi kita, kita bisa dengan
mudah memasukkan pilihan kita.
          Alternatif pemilihan menggunakan jaringan internet sangat banyak mengundang ketertarikan karena melibatkan proses yang sangat praktis dalam hal perhitungan jumlah suara yang masuk. Semua bisa diprogram dengan komputer. Dengan pesatnya kemajuan teknologi internet ini kita bisa memberikan suara kita walaupun kita sedang berada di luar negeri. Kita bisa memasukkan pilihan kita pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan malam hari. Sistem ini sangat nyaman bagi dunia yang sangat sibuk ini.

          Kita sering tidak punya waktu atau malas untuk pergi ke pos-pos pemilu untuk memberikan suara. Dengan internet-voting kita hanya perlu menyalakan komputer atau laptop atau PDA (Personal Digital Assistant) atau telepon selular kita untuk mendapatkan sambungan internet. Setelah tersambung, kita hanya perlu membaca pilihan-pilihan yang ada, kemudian langsung memasukkan pilihan kita dengan satu klik saja. Saat itu juga pilihan kita otomatis masuk dalam perhitungan total suara.
          Sistem yang sedang dikembangkan bahkan meliputi juga pengecekan ulang
yang bisa dilakukan si pemilih. Sesudah suaranya masuk dalam perhitungan, si
pemilih bisa mengecek kembali dengan cara mengakses rangkuman rahasia yang
berisi informasi pilihannya beserta tanggal dan waktu masuknya pilihan tersebut.
Rangkuman ini hanya bisa diakses oleh si pemilih menggunakan nomor identitas
yang diberikan saat memasukkan pilihannya.
          Jadi kita bisa terus memonitor pilihan kita sehingga kita bisa mengetahui bahwa pilihan kita tidak diubah-ubah oleh pihak-pihak lain. Ini merupakan salah satu metode perlindungan keamanan yang sedang dikembangkan. Metode ini digunakan untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang mungkin dilakukan oleh anggota panitia pelaksana.
          Akan tetapi, program yang benar-benar aman dari ancaman para ‘hacker
komputer masih harus terus dikembangkan dan disempurnakan. Masalah
keamanan tetap menjadi hambatan utama internet voting.
          Namun, metode ini banyak mendapatkan kritik dari berbagai pihak karena hanya menjangkau masyarakat yang memiliki akses internet saja. Masyarakat kecil dan yang tingkat pendidikannya masih rendah biasanya tidak mengerti dan tidak mampu mengakses dunia maya ini. Untuk itulah tingkat pendidikan harus terus dikembangkan supaya semakin merata dan menjangkau semua pihak. Dan belum ditemukan cara untuk mengatasi orang penyandang cacat agar tetap berpartisipasi dalam Pemilu jika menggunakan metode “dunia maya” ini.
          Program ini merupakan agenda besar yang dapat diambil perannya oleh mahasiswa, sebagai salah satu bagian dari lapisan masyarakat yang berintelektual dan melek pengetahuan secara global serta sebagai seorang penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Saatnya pemuda lah yang mengambil alih peran ini untuk membangun masyarakat berperadaban.
          Jadi seiring berjalannya waktu yang semakin modern, memicu Masyarakat Indonesia untuk terus mengembangkan ilmu teknologi dan penerapannya guna kemaslahatan kepentingan pemerintah maupun masyarakat kecil. Dimulai dengan adanya pengembangan sambungan internet di daerah-daerah terpencil, sehingga tidak terjadi ketimpangan sosial antara masyarakat kota dan masyarakat desa. Semua lapisan masyarakat bisa mendapat hak yang sama dalam memperoleh pengetahuan dan terus mengikuti perkembangan kemajuan jaman. Jadi pemanfaatan dunia maya sebagai upaya renovasi sistem Pemilu ini dijadikan agenda besar untuk mendukung Indonesia menjadi Negara Maju.

Pemuda=Pahlawan Negara


Dulu ketika aku masih dalam kandungan ibuku,aku belum mengarti apa-apa yang ada di dunia ini apalagi tentang pahlawan.
Dulu ketika aku balita aku hanya tahu oarang-orang disampingku yang selalu menemaniku, apakah dia yang disebut pahlawan atau bukan aku juga tidak mengerti.
Dulu ketika aku masih TK, aku mengganggap bahwa seseorang yang disebut sebagai pahlawan adalah seseorang yang mempunyai kekuatan super, bisa terbang, seperti Batman, atau Spiderman.
Ketika kelas 1 SD, pemikiranku berkembang dan mengira bahwa pahlawan itu adalah Bung Karno, Bung Hatta, Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya. Pemikiran seperti itu mengendap dalam otakku hingga aku kelas 4 SD.
Saat kelas 4 SD, aku mulai sadar bahwa pngertian aku tentang pahlawan dan kepahlawanan ternyata salah kaprah. Bu Guru PPKn saat itu menjelaskan bahwa seorang pahlawan itu bukan berarti harus mengangkat senjata dan ikut berperang melawan Belanda atau Jepang. Pahlawan itu bukan pula berarti harus seseorang yang memiliki kekuatan super, bisa meremukkan mobil dengan kedua tangannya, atau pun bisa terbang tanpa menggunakan pesawat atau parasut.
Akupun ikut bertanya karena penasaran, “Lalu siapa donk, Bu?”. Bu Guru menjawab, ”engkau pun bisa jadi pahlawan asalkan kalian semua mau”. Aku semakin bingung dan terdiam. “Saya masih gak ngerti, Bu.Kok bisa semua orang bisa jadi pahlawan?” .   
Ibu Guru pun menjelaskan “Bung Karno, Bung Hatta, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya disebut pahlawan karena mereka rela berkorban dan berjuang untuk membela negara dan bangsa kita dari kaum penjajah.
Superman, Batman, Spiderman, Power rangers dan Superhero disebut sebagai pahlawan karena mereka juga rela berkorban dan berjuang demi membela kaum yang lemah yang ditindas oleh musuh-musuh mereka yang jahat dan kejam.
Jadi, mereka semua memiliki persamaan yaitu sama-sama rela berkorban dan gigih berjuang untuk membela sesuatu, dan sesuatu itu adalah berguna bagi banyak orang. Kalian pun bisa menjadi seperti mereka dengan menauladani sifat mereka yang rela berkorban dan gigih berjuang membela sesuatu yang benar, baik, dan bermanfaat bagi banyak orang.
Ketika aku menduduki jenjang SMP dan SMA, pahlawan itu adalah siswa yang bisa mengerjakan soal-soal di papan tulis dan yang mendapatkan sanjungan dari sang Guru.
Lebih dewasa lagi ketika aku sudah bergelar sebagai seorang mahasiswa, ternyata begitu luas makna dari pahlawan itu.  Kita bisa menepati janji itu pun bisa di katakan sebagai seorang pahlawan. Tak usah bermimpi tinggi untuk bisa menduduki kursi panas sebagai seorang presiden sehingga baru bisa dikatakan sebagai seorang pahlawan. Dan tidak harus orang-orang yang  sudah mempunyai jabatan tinggi di ketatanegaraan yang bisa disebut pahalawan. Kita sebagai mahasiswa atau pemuda penggerak juga punya andil yang cukup besar untuk menjadi pahlawan bagi rakyat Indonesia yang masih sangat haus akan kewajiban-kewajiban yang belum dipenuhi oleh pemimpin-pemimpin mereka. Pemuda sebagai director of change harus bisa berpikir solutif untuk negara yang sedang carut marut seperti ini, berani menyuarakan aspirasi juga berani memberikan solusi (ehem...sepertinya harus sambil belajar mengurus negara keluarga deh...hihihi).
Namun apakah pemuda bisa menjadi pahlawan negara jika hanya bermodal pemikiran?. “Tidak”, kataku. Untuk Indonesia yang serba Glamour seperti ini, tentunya modal dompet tebal lebih diutamakan... (Maksud loh..?) Dan sekali lagi menjadi pahlawan tidak harus memegang bedil dan senapan. Namun, hal itu bukan berarti kita tidak membutuhkan senjata untuk berjuang.” Kita tidak perlu senapan, senjata ataupun granat itu semua kalau kita bukan anggota TNI atau POLRI. Lagian, untuk saat ini, barang-barang itu sudah lebih jarang digunakan oleh Pak Polisi dan Pak Tentara, soalnya dah gak ada lagi yang perlu ditembak kecuali maling, rampok, atau penjahat. Senjata yang kita perlukan saat ini adalah:
  1. Iman dan taqwa,
  2. Ilmu Pengetahuan,
  3. Keterampilan,
  4. Kreatifitas,
  5. Usaha yang jujur dan tekun.
Dengan bersenjatakan 5 hal di atas, insyaAllah kita semua bisa menjadi Pahlawan-Pahlawan baru bagi negara Indonesia ini (waduh, kalau semua pemuda memiliki modal ini, tidak rugi dah bagi bapak atau ibu yang menjadikannya sebagai mantu, hehehe..).Di tahun 2014, akankah ditemukan seonggok pahlawan yang bisa memberikan perubahan bagi negeri ini? (halah, masa bodoh yang penting setelah keluar dari universitas, keluar dari universitas?itu lulus atau DO ya?hehe...)

Mengumpulkan puing-puing yang berserakan


Panas terik siang ini, sinar sang mentari yang menyengat raga. Semoga sepanas semangat kita dalam melangkah di jalan dakwah ini. Masih selalu berharap untuk teman-temanku nan jauh di sana dalam perlindungan dan penjagaan ALLAH SWT. Perjalanan ini begitu terasa nikmat, kadang suka kadang duka. Bersyukurlah telah memilih untuk bergabung di jalan dakwah ini. Hidup itu pilihan, dan setiap pilihan itu menunjukkan hakekat tujuan hidup manusia itu sendiri.
Merindukan masa-masa awal pertama kali dimana kita bergotong-royong nan penuh ghirah demi suksesnya suatu acara, tertawa bersama, seakan hal yang paling sulit pun tetap terasa ringan. Perjalanan yang tak kenal henti, kan terus berputar bagai roda, berpikir keras untuk sebuah strategi dakwah. Namun, disamping itu semua sejenak kita berdiam. Menengok ke belakang tentang apa yang sudah kita garap, apakah yang kita lakukan sudah menunjukkan orientasi sasaran ke depan ataukah hanya sekedar menjalankan agenda yang diperintahkan. Teringat  bahwasannya hasil itu sebanding dengan usaha, sudah berapa persenkah usaha dilakukan yang dapat memberi manfaat kepada umat kampus, dan sudah sejauh mana perjalanan kita untuk mencapai kemenangan dakwah kampus. Hati akan menangis, melihat kita yang terlena dengan kesibukan duniawi.
Begitu kurasa, gerak ini sudah terpencar tak terarah, ruh-ruh pergerakan yang semakin surut, dan kini banyak dari kalian yang dulu berada di barisan mulai menghilang dalam bayang semu. Memang, adakalanya ketika kita berjalan dan terus berjalan kemudian merasa lelah. Maka, berhentilah sejenak. Menggunakan waktu singkat itu untuk kembali mengisi nutrisi jiwa, mengumpulkan semangat-semangat yang memudar, dan merefresh ruh ini.
Mengevaluasi nurani, tak akan sedikitpun merasa sia-sia dengan semua yang telah dikerjakan jikalau semua tujuan ini hanya dicukupkan untuk ALLAH. Tak akan merasa sedikitpun kekecawaan bahkan sakit hati itu timbul hanya karena ulah manusia jikalau seluruh diri ini kita pasrahkan kepada ALLAH.
Memulai menata hati kembali, sejenak merenung dan memohon ampun jikalau sedikitpun terbesit dalam qalbu ini suatu kotoran yang hanya menyumbat murninya tujuan dakwah nan suci ini. Dan kembali mengingat sebuah pesan bahwasannya, “Ada atau tidaknya kita dalam barisan dakwah maka ISLAM akan tetap mencapai kejayaan”. Apakah kita akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan ALLAH kepada kita untuk memulai langkah mencapai makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah sebuah kesempatan emas jikalau setiap dari kita selalu melibatkan diri di dalam agenda dakwah. Lagipula ALLAH juga telah menjanjikan kepada hambaNYA balasan yang tiada pernah didapatkan dimanapun.
Mengajak teman-temanku untuk segera bangun kembali. Membuka pikiran lebih luas lagi bahwasannya masih banyak agenda-agenda yang harus terbahas untuk melangkah mencapai impian bersama. Merapatkan barisan-barisan dakwah yang semakin kokoh. Melangkah bersama dalam rangkulan ukhuwah. Kita satu untuk semua, menuju kampus yang satu.

Sabtu, 05 Mei 2012

Aku lelah

Galau oh galau,,
Biasa orang mengatakan jikalau suasana hati sedang gundah dan penat jiwa melanda,,
Begitu lelah kini yang kurasakan, aku tak tahu apa yang menjadi sebab terjadinya guncangan dalam diriku. Semua seolah terasa penuh dalam pikran ini dan semua seolah terasa sesak dalam hati ini.

Inginku pergi,
Inginku kabarkan pada luasnya samudra,
Inginku  kabarkan pada sejuknya embun pagi,

Aku lelah,
Biarkan aku sejenak merebahkan jiwa ini,
Aku lelah,
jikalau setiap sinarnya mentari meninggalkanku dan ketika bulan mulai tersenyum padaku,
aku selalu mengeluarkan airmata, begitu pedih yang kurasa, semua terasa sumpeg.
Aku sadar, manusia tak bisa dituntut terus untuk sempurna dalam melakukan agenda-agenda dalam hidupnya. Dalam geraknya ia terkadang terjatuh karena adanya rintangan yang sulit ia alami. Terkadang ia selalu bersemangat melihat cahaya-cahaya keberhasilan sudah dalam jarak yang begitu dekat. Namun, ada kalanya ia harus berhenti sejenak untuk merefresh jiwa-jiwa yang mulai kendur. Mengisi ulang dengan nutrisi yang diperlukan jiwa, raga maupun hatinya. Biarkan hati menangis semua keadaan yang dialaminya, biarkanlah ia melepas semua kejenuhan yang menyumbat langkah geraknya, berikan waktu kepada jiwa-jiwa yang kering itu untuk membasahi dirinya kembali.
Namun,terkadang pikiran-pikiran yang buruk selalu mngikuti. Seolah nampak semangat dan bergairah diri ini, namun hati yang sungguh ingin memberontak pada keadaan. Entah mengapa aku tak menemukan ruh-ruh yang menggebrak seperti dulu lagi.
Pikirku juga tak bisa selalu menunggu, tapi akulah yang harusnya memulai ini semua. Aku harus berusaha untuk bangkit lagi dengan membangun ruh baru, menutup lembaran-lembaran kelam dalam hidupku yang hanya melemahkanku.

Aku harus bangun,
dari semua bayang-bayang semu yang selalu menghantuiku,
aku tak bisa terus begini,
aku harus bangun...

Harapan dari setiap insan, Kesenangan serta ketenangan
Menjalani hidup ini, T
anpa ada cobaan
Sayang harapan itu tak pasti, Karna cobaan akan terjadi
Tuk menguji sabar diri Dan ketaqwaan
Akan kah kita tetap tegar menjalaninya dgn keikhlasan
Ataukah terjerumus ke dalam keputus asaan