Setiap rel akan selalu menjadi saksi sejarah

Terhadap kereta kehidupan yang melintas di atasnya

Kamis, 10 Mei 2012

Pemanfaatan Dunia Maya dalam Pelaksanaan PEMILU


Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses pemilihan orang-orang untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
          Jabatan-jabatan tersebut dimulai dari presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Para pemilih dalam Pemilu disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye. Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
          Setelah
pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan kepada pemilih.
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang biasa disebut dalam prinsip sistem demokrasi.
          Pemilihan umum (Pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rezim pemilu. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada Pemilu 2004.
          Pada 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Di tengah masyarakat, istilah "pemilu" lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
         
          Di tahun 2012 ini Indonesia akan kembali mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu juga selalu diikuti oleh kecemasan dan ketakutan masyarakat akan kondisi keamanan negara. Biasanya saat Pemilu merupakan saat-saat rawan karena semua partai yang berpartisipasi berlomba-lomba merebut perhatian masyarakat dengan menggunakan berbagai cara. Kondisi rawan ini terus berlangsung walaupun proses pengambilan suara telah selesai. Ini karena proses pemilu masih harus dilanjutkan lagi dengan tahap penghitungan jumlah suara yang masuk untuk menentukan pemenang.
          Proses penghitungan yang masih dilakukan secara manual ini tentu saja membutuhkan waktu tidak sedikit. Walaupun didukung oleh banyak orang yang tergabung dalam panitia pelaksana, tetap saja prosesnya memakan waktu. Belum lagi kalau terjadi kesalahan-kesalahan dalam perhitungan, semua proses penghitungan mungkin harus diulang dari awal. Kelemahan proses ini akhirnya mendorong para pemikir untuk menemukan alternatif proses pemilihan umum dan penghitungan suara yang lebih sederhana dan cepat tetapi tetap akurat. Teknik pengambilan suara menggunakan elektronik (E-Voting) merupakan jawaban yang cukup menjanjikan. Jutaan orang di Negeri ini sudah tidak asing lagi yang namanya “internet”, mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah menjadi pengguna internet, dan sudah seperti makan sehari-hari bagi mereka. Sistem pendidikan pun sudah sangat dekat dengan penggunaan internet.
          Metode Pemilu di dunia maya ini sebenarnya bukan hal yang baru. Kita sudah sering menemukan berbagai bentuk polling di dunia maya. Kita sendiri sudah mengetahui betapa cepatnya proses perhitungan suara yang bisa dilakukan jika kita menggunakan bantuan elektronik ini. Pada saat kita memasukkan suara atau pilihan kita pun kita bisa langsung mengetahui total suara yang sudah masuk. Hasil perhitungan ini pun dijamin sangat akurat karena dilakukan menggunakan program komputer. Betapa banyak waktu yang bisa dihemat saat kita memanfaatkan jaringan internet ini. Di mana pun lokasi kita, kita bisa dengan
mudah memasukkan pilihan kita.
          Alternatif pemilihan menggunakan jaringan internet sangat banyak mengundang ketertarikan karena melibatkan proses yang sangat praktis dalam hal perhitungan jumlah suara yang masuk. Semua bisa diprogram dengan komputer. Dengan pesatnya kemajuan teknologi internet ini kita bisa memberikan suara kita walaupun kita sedang berada di luar negeri. Kita bisa memasukkan pilihan kita pada pagi hari, siang hari, sore hari, bahkan malam hari. Sistem ini sangat nyaman bagi dunia yang sangat sibuk ini.

          Kita sering tidak punya waktu atau malas untuk pergi ke pos-pos pemilu untuk memberikan suara. Dengan internet-voting kita hanya perlu menyalakan komputer atau laptop atau PDA (Personal Digital Assistant) atau telepon selular kita untuk mendapatkan sambungan internet. Setelah tersambung, kita hanya perlu membaca pilihan-pilihan yang ada, kemudian langsung memasukkan pilihan kita dengan satu klik saja. Saat itu juga pilihan kita otomatis masuk dalam perhitungan total suara.
          Sistem yang sedang dikembangkan bahkan meliputi juga pengecekan ulang
yang bisa dilakukan si pemilih. Sesudah suaranya masuk dalam perhitungan, si
pemilih bisa mengecek kembali dengan cara mengakses rangkuman rahasia yang
berisi informasi pilihannya beserta tanggal dan waktu masuknya pilihan tersebut.
Rangkuman ini hanya bisa diakses oleh si pemilih menggunakan nomor identitas
yang diberikan saat memasukkan pilihannya.
          Jadi kita bisa terus memonitor pilihan kita sehingga kita bisa mengetahui bahwa pilihan kita tidak diubah-ubah oleh pihak-pihak lain. Ini merupakan salah satu metode perlindungan keamanan yang sedang dikembangkan. Metode ini digunakan untuk menghindari kecurangan-kecurangan yang mungkin dilakukan oleh anggota panitia pelaksana.
          Akan tetapi, program yang benar-benar aman dari ancaman para ‘hacker
komputer masih harus terus dikembangkan dan disempurnakan. Masalah
keamanan tetap menjadi hambatan utama internet voting.
          Namun, metode ini banyak mendapatkan kritik dari berbagai pihak karena hanya menjangkau masyarakat yang memiliki akses internet saja. Masyarakat kecil dan yang tingkat pendidikannya masih rendah biasanya tidak mengerti dan tidak mampu mengakses dunia maya ini. Untuk itulah tingkat pendidikan harus terus dikembangkan supaya semakin merata dan menjangkau semua pihak. Dan belum ditemukan cara untuk mengatasi orang penyandang cacat agar tetap berpartisipasi dalam Pemilu jika menggunakan metode “dunia maya” ini.
          Program ini merupakan agenda besar yang dapat diambil perannya oleh mahasiswa, sebagai salah satu bagian dari lapisan masyarakat yang berintelektual dan melek pengetahuan secara global serta sebagai seorang penyambung lidah antara masyarakat dan pemerintah. Saatnya pemuda lah yang mengambil alih peran ini untuk membangun masyarakat berperadaban.
          Jadi seiring berjalannya waktu yang semakin modern, memicu Masyarakat Indonesia untuk terus mengembangkan ilmu teknologi dan penerapannya guna kemaslahatan kepentingan pemerintah maupun masyarakat kecil. Dimulai dengan adanya pengembangan sambungan internet di daerah-daerah terpencil, sehingga tidak terjadi ketimpangan sosial antara masyarakat kota dan masyarakat desa. Semua lapisan masyarakat bisa mendapat hak yang sama dalam memperoleh pengetahuan dan terus mengikuti perkembangan kemajuan jaman. Jadi pemanfaatan dunia maya sebagai upaya renovasi sistem Pemilu ini dijadikan agenda besar untuk mendukung Indonesia menjadi Negara Maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar