Setiap rel akan selalu menjadi saksi sejarah

Terhadap kereta kehidupan yang melintas di atasnya

Kamis, 10 Mei 2012

Mengumpulkan puing-puing yang berserakan


Panas terik siang ini, sinar sang mentari yang menyengat raga. Semoga sepanas semangat kita dalam melangkah di jalan dakwah ini. Masih selalu berharap untuk teman-temanku nan jauh di sana dalam perlindungan dan penjagaan ALLAH SWT. Perjalanan ini begitu terasa nikmat, kadang suka kadang duka. Bersyukurlah telah memilih untuk bergabung di jalan dakwah ini. Hidup itu pilihan, dan setiap pilihan itu menunjukkan hakekat tujuan hidup manusia itu sendiri.
Merindukan masa-masa awal pertama kali dimana kita bergotong-royong nan penuh ghirah demi suksesnya suatu acara, tertawa bersama, seakan hal yang paling sulit pun tetap terasa ringan. Perjalanan yang tak kenal henti, kan terus berputar bagai roda, berpikir keras untuk sebuah strategi dakwah. Namun, disamping itu semua sejenak kita berdiam. Menengok ke belakang tentang apa yang sudah kita garap, apakah yang kita lakukan sudah menunjukkan orientasi sasaran ke depan ataukah hanya sekedar menjalankan agenda yang diperintahkan. Teringat  bahwasannya hasil itu sebanding dengan usaha, sudah berapa persenkah usaha dilakukan yang dapat memberi manfaat kepada umat kampus, dan sudah sejauh mana perjalanan kita untuk mencapai kemenangan dakwah kampus. Hati akan menangis, melihat kita yang terlena dengan kesibukan duniawi.
Begitu kurasa, gerak ini sudah terpencar tak terarah, ruh-ruh pergerakan yang semakin surut, dan kini banyak dari kalian yang dulu berada di barisan mulai menghilang dalam bayang semu. Memang, adakalanya ketika kita berjalan dan terus berjalan kemudian merasa lelah. Maka, berhentilah sejenak. Menggunakan waktu singkat itu untuk kembali mengisi nutrisi jiwa, mengumpulkan semangat-semangat yang memudar, dan merefresh ruh ini.
Mengevaluasi nurani, tak akan sedikitpun merasa sia-sia dengan semua yang telah dikerjakan jikalau semua tujuan ini hanya dicukupkan untuk ALLAH. Tak akan merasa sedikitpun kekecawaan bahkan sakit hati itu timbul hanya karena ulah manusia jikalau seluruh diri ini kita pasrahkan kepada ALLAH.
Memulai menata hati kembali, sejenak merenung dan memohon ampun jikalau sedikitpun terbesit dalam qalbu ini suatu kotoran yang hanya menyumbat murninya tujuan dakwah nan suci ini. Dan kembali mengingat sebuah pesan bahwasannya, “Ada atau tidaknya kita dalam barisan dakwah maka ISLAM akan tetap mencapai kejayaan”. Apakah kita akan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang diberikan ALLAH kepada kita untuk memulai langkah mencapai makna hidup yang sesungguhnya. Bukankah sebuah kesempatan emas jikalau setiap dari kita selalu melibatkan diri di dalam agenda dakwah. Lagipula ALLAH juga telah menjanjikan kepada hambaNYA balasan yang tiada pernah didapatkan dimanapun.
Mengajak teman-temanku untuk segera bangun kembali. Membuka pikiran lebih luas lagi bahwasannya masih banyak agenda-agenda yang harus terbahas untuk melangkah mencapai impian bersama. Merapatkan barisan-barisan dakwah yang semakin kokoh. Melangkah bersama dalam rangkulan ukhuwah. Kita satu untuk semua, menuju kampus yang satu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar